

Sang Pramugari: Febby yang Sexy

 

 

Perkenalanku dengan Febby terjadi di pesawat menuju Denpasar. Saat itu dia adalah extra crew. Karena penumpang tidak terlalu ramai, dia duduk di bagian belakang sebaris denganku tetapi berseberangan dengan tempat dudukku. Percakapan kami terjadi karena aku hanya mengambil air putih saat ditawarkan minum oleh pramugari.

"Wahh.. si Mas lagi mutih ya" komentarnya
"Gak, Mbak. Aku kurang suka minuman yang manis-manis" jawabku
"Gak suka yang manis, sukanya yang apa dong? tanyanya
"Yang gak manis, maksudnya cantik ha.. ha.., sori becanda"
"Ahh si Mas ditanya serius, malah guyon"

Lalu aku menjulurkan tangan dan berkenalan dengannya. Kemudian kami terlibat obrolan, aku bilang aku juga punya kenalan pramugari bernama Vivi dan akhirnya aku bisa bertukaran nomor telepon dengan Febby.

"Ini bukan nomor telepon palsu kan?" tanyaku
"Gak Joy, kamu kok curiga aku bohongin"
"Bukan begitu, kadang-kadang kan suka ada yang gak mau kasih tau nomor teleponnya, tapi pura-pura ngasih, padahal yang dikasih nomor palsu"
"Ntar turun kamu coba telepon aku. Kamu juga catat NIP aku nih, supaya kamu bisa tanya teman kamu"
"Iya deh, aku 200 persen percaya"

Setelah landing di Denpasar dan keluar dari bandara, aku menelpon Febby dan ternyata memang itu nomor HP-nya. Dia sedang menunggu penerbangan ke Tokyo yang akan berangkat tengah malam. Setelah perkenalan itu, karena Vivi juga sedang cuti, aku lebih banyak menemani Vivi dan lupa dengan Febby, sampai aku terima SMS dari dia yang menanyakan kabarku. Aku pun menelponnya dan minta maaf karena tidak menghubunginya.

Setelah itu kami sering SMS atau telepon. Febby bercerita bahwa dia sudah bersuamikan seorang pilot tapi hanya sebagai isteri simpanan yang tidak diketahui isteri pertama. Pertemuan dengan suami tidak beraturan karena jadwal terbang berlainan. Saat Febby libur, si suami sedang terbang atau sebaliknya. Selain tu si suami juga harus mengatur jadwal dengan isteri pertamanya. Oleh karena itu mereka sering minta schedule tujuan kota yang sama walaupun tidak satu flight, dengan harapan mereka ada waktu untuk bertemu. Kadang mereka bisa bersamaan dan menginap di satu kota. Saat itulah digunakan oleh si pilot untuk menikmati tubuh Febby dan bercinta sepuasnya.

Suatu hari Febby mengajakku berenang di suatu hotel di Bekasi Barat. Kami janjian bertemu di kolam renang. Aku terpana saat melihat Febby dengan pakaian renangnya. Kakinya panjang, buah dadanya besar tapi terlihat kencang dan padat, kutaksir ukurannya 36C.

"Mata kamu nakal banget sih" katanya melihat aku seringkali melirik belahan dadanya.
"Aku kagum kamu pintar merawat tubuh. Beruntung sekali suami kamu"

Dia segera berenang menjauhiku. Setiap aku mendekat, Febby selalu menghindar dan berenang menjauh. Suatu kali Febby berenang menghampiriku.

"Yuuk.. udahan. Lumayan aku udah 10 kali bolak-balik" ajaknya
"Waah.. aku kira deketin aku mau meluk eh malah ngajak pulang"
"Ngaco kamu, ayo naik" Febby menarik tanganku untuk keluar dari kolam renang.

Saat Febby memakai baju mandinya lewat di depanku cowok bule menggandeng seorang cewek lokal.

"Cantik dan sexy juga tuh cewek" gumamku dalam hati sambil menatap cewek itu dan kebetulan dia juga sedang menatapku. Kami bertatapan sebentar dan aku mengalihkan pandanganku ke Febby yang sudah selesai memakai baju mandinya.

Kami berjalan ke kamar ganti. Ternyata kamar gantinya boleh dipakai untuk cewek maupun cowok. Kami mandi dan membilas tubuh masing-masing, sambil sesekali aku melirik tubuh Febby yang mandi disebelahku. Selesai mandi Febby menawariku berganti pakaian di satu kamar. Tentu saja kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Di dalam kamar aku mencium Febby, dia tidak menolak bahkan membalas ciumanku dengan gairah. Aku menelusuri lekuk tubuhnya sambil membuka baju renangnya, Febby hanya mendesah-desah. Ciuamnku mulai ke arah buah dadanya. Saat aku mulai menjilati puting buah dada Febby, dia menolakku.

"Udah, sayang. jangan berbuat lebih gila lagi di sini. Lebih baik kita cepat ganti baju dan pulang" Kata Febby sambil cepat-cepat berpakaian.

Walau agak kecewa aku menuruti permintaan Febby dan segera berganti pakaian. Untuk mengobati kekecewaanku aku berkhayal Febby ingin segera pulang karena di rumah tentu lebih bebas bercumbu denganku. Setelah berpakaian Febby berdandan dan aku menunggu di sampingnya. Saat itu masuklah cowok bule dan cewek yang tadi kulihat di kolam renang. Mereka bergegas masuk ke kamar ganti tetapi kulihat mereka tidak membawa baju gantinya dan juga tidak mandi dulu. Keherananku terjawab saat kudengar suara manja dari mulut si cewek di kamar ganti. Tidak lama kemudian kudengar suara kecupan dan ciuman, setelah itu suara lenguhan si cowok. Diakhiri kemudian oleh suara desis dan desah mereka, lalu hening sebentar dan suara orang berpakaian. Tak lama kemudian mereka keluar kamar ganti. Kulihat wajah si bule penuh kepuasan. Aku dan si cewek kembali bertatapan sebelum si bule menggandeng si cewek. Febby melihatku menatap bagian belakang tubuh si cewek dan mencubitku.

"Aduhh.., kenapa aku dicubit?" tanyaku
"Kamu lagi ngebet ya?. Tadi ngeliatin dadaku, sekarang melototin tuh cewek"
"Iya abis tuh cewek sexy juga, tapi kalah sexy sama Febby" kataku membuat aku dicubit lagi.
"Kok cuma sebentar ya mainnya" kata Febby
"Ehh, kamu dengerin juga mereka main ya?. Mungkin si cowok kebelet kali" aku berbicara di kuping Febby sambil memeluknya dari belakang.
"Kapan lagi dengerin orang ML, gratis lagi. Yuuk, aku udah selesai dandan. Sekarang antar aku pulang, tapi aku mau pipis dulu"

Setelah sampai di komplek perumahan Febby, dia menyuruhku menjalankan mobil perlahan.

"Kalo kamu masih mau cium aku, jalan lurus aja. Di sana ada jalan buntu dan masih sepi. kamu bisa cium aku lagi" kata Febby
"Lho tadi kan Febby bilang mau terusin di rumah cumbuannya?"
"Ehh, aku gak bilang begitu. Aku kan cuma ngajak pulang. Lagi kamu gak boleh tau rumahku. Jadi nanti kamu turunin aku di ujung jalan aja. Jangan protes, kalo masih mau cium aku cepat ke sana"

Di tempat sepi itu aku mulai mencium bibir Febby lagi dan dia membalas dengan gairah. Tangan nakalku mengusap-usap pangkal lengan Febby dan kadang-kadang menyentuh pinggir buah dadanya.

"Kamu mau?" tanya Febby.
"Boleh?" balik aku bertanya. Febby mengangguk.

Aku segera membuka kancing blouse-nya dan mengeluarkan buah dadanya dari BH-nya. Aku mulai dengan menjilat puting Febby dan kemudian mengulumnya bergantian kiri dan kanan.

"Sshh.. sshh.., sayang aku gak kuat" rintih Febby. Aku semakin menggencarkan seranganku di buah dadanya sambil tanganku juga mulai menyelusup ke balik roknya. Aku mengusap-usap vagina Febby dari luar celana dalamnya.

"Sayangg.., udah ya. Aku gak kuat." Febby segera merapikan blouse-nya dan mengajakku pulang.

Febby menunjukkan jalan ke arah rumahnya, saat kutanya mau turun di mana, dia minta diantar sampai rumah. Sesampai di rumahnya Febby memintaku parkir di carport, kemudian dia mengunci pintu pagar dan mengajakku turun. Aku mengikuti Febby masuk ke dalam rumahnya. Febby kemudian mengunci pintu dari dalam dan tanpa kusangka Febby segera memelukku, menciumiku. Kubalas pelukan Febby, kukulum bibir tipisnya. Sambil berciuman tanganku sudah menggerayangi tubuh Febby, menelusuri lekuk tubuhnya, meremas buah dadanya. Kali ini tidak ada penolakan lagi dari Febby.

Ciumanku berpindah dari bibir ke leher dan bahunya yang mulus. Tanganku juga mulai membuka kancing blouse Febby satu persatu. Tangan Febby mulai bergerak liar di punggungku, kemudian bergeser ke depan dan meremas-remas penisku dari luar celana panjangku. Setelah blouse lepas, tanganku mulai mecari kancing rok Febby, dan menurunkan dari pinggulnya yang sexy. Saat rok Febby jatuh ke kakinya, mulutku sudah turun ke arah buah dadanya. Aku membuka pengait BH Febby, segera melepaskan dari tubuhnya sehingga terpampang jelas buah dadanya. Aku menghujani buah dada Febby dengan kecupan dan gigitan kecil, kemudian mulai mengulum putingnya, membuat Febby menggeliat-geliat.

"Ouhh.., teruss.. teruss, sayang" Febby mengeluh kenikmatan.

Tanganku semakin liar, mengusap pangkal paha Febby dan menurunkan celana dalamnya. Disaat yang sama Febby sudah melepaskan celanaku, tangannya sudah menyelusup ke balik CD ku. Tangan yang satunya berusaha membukanya. Setelah CD ku lepas tangan Febby menggenggam penisku, mengocok-ngocoknya sambil sesekali jempolnya mengusap-usap ujung penisku. Aku memainkan clit Febby dan memasukkan jariku ke dalam vaginanya, membuat gerakan keluar masuk sambil mulutku tetap mengisap payudara Febby.

Mulutku mulai berpindah mengecup perut Febby, kemudian turun hingga ke pangkal pahanya. Lidahku keluar masuk di vagina Febby, kadang mengulum dan menjilati clit-nya. Febby mengajakku pindah ke kamarnya. Kurebahkan tubuh Febby di ranjang dan melanjutkan menjilati vaginanya. Kali ini aku sudah dalam posisi 69, sehingga tanpa ragu Febby juga menciumi dan mengulum penisku. Sesekali Febby memainkan lidahnya di ujung penisku, diseling dengan gerakan mengeluar masukkan penisku di dalam mulutnya.

"Sudah.. sayang, aku ingin sekarang" rintih Febby

Aku segera mengarahkan penisku ke dalam vagina Febby.

"Oouuhh..ouhh.." lenguh Febby disaat penisku memasuki lubang kenikmatan miliknya
"Mmhh.., sayanngg." Perlahan aku mulai melakukan gerakan naik turun di atas Febby.

Baru beberapa saat Febby menghendaki posisi di atasku. Tanpa kesulitan aku menggulingkan tubuh mulus Febby, dia segera memutar pinggulnya begitu berada di atas, diselingi gerakan maju mundur. Tak berapa lama kemudian Febby mencengkeram dadaku, disaat dia merasakan tanda-tanda orgasme.

"Sayang, sayang, aku.. aku.. keluuaarr..sshh..aahh.." rintih Febby, kemudian ambruk di atas tubuhku.

Aku mengecup pipi, bibir dan matanya.

"Puas, sayang?" tanyaku
"Hmmh, aku puas tapi pengen lagi" rengeknya manja. "Kamu belum keluar kan?

Aku tidak menjawab tetapi segera membalikkan tubuh Febby hingga berada di bawah tubuhku. Aku juga ingin segera menuntaskan birahiku yang sejak dari kolam renang sudah menuntut pelampiasannya. Tubuhku mulai bergerak naik turun di atas Febby. Dia mengimbangi dengan memutar pinggulnya. Goyangan Febby membuatku berusaha keras menahan ejakulasiku. Aku ingin orgasme kami berbarengan.

"Sayang, aku gak tahan lagi. Keluarin di mana?" tanyaku saat kurasakan aku akan ejakulasi.
"Di dalam aja. Ayo, goyang lebih cepat, sayang. Aku juga mau keluar" Febby menjawab sambil mempercepat goyangannya.
"Sshh..sshh, aku mau keluarr. Emmhh..aahh" aku mendesis saat air maniku tersembur ke dalam vagina Febby tanpa mampu kutahan lagi.
"Aahh..aahh, aku juga keluarr, sayanng" Febby mencapai orgasmenya yang kedua.

Setelah itu yang tinggal hanya dengus nafas kami yang masih memburu, kemudian lambat laun mereda. Aku mengecup bibir Febby.

"Makasi, sayang. Kamu benar-benar hebat" kataku.
"Kamu yang hebat, bisa bikin aku orgasme 2 kali, padahal kamu cuma sekali keluar. Hebat mana aku atau Mbak Vivi?" balas Febby.
"Ehh, emang siapa yang main sama Vivi?" tanyaku
"Uuhh, pura-pura, aku yakin kamu sering main kan sama Mbak Vivi? Pasti dia ketagihan kaya aku juga. Mulai sekarang aku minta jatah yang enak dari kamu kaya yang kamu kasih buat Mbak Vivi. Kalo gak aku cari cowok lain untuk muasin aku" Febby mengajuk

Aku segera mengulum bibirnya dan mulai mencumbunya lagi hingga kami terangsang lagi. Aku mulai menggerakkan penisku yang masih di dalam vagina Febby. Setiap aku menurunkan pantatku, penisku disambut oleh goyangan Febby, dia memutar pinggulnya disaat aku menarik penisku. Babak kedua ini berakhir setelah Febby mencapai 2 kali orgasme lagi.

Hari itu masih ada 2 babak berikutnya sebelum aku pamit pulang pada jam 5 sore. Febby selalu orgasme 2 kali di setiap babak.

"Aku puas sekali hari ini. Biasanya aku sulit bisa orgasme kalau main dengan suamiku. Pulang terbang nanti kamu datang ke sini ya. Dari pagi sampai sore temani dan puasi aku lagi. Aku ingin bercinta dengamu sebelum suamiku datang" pinta Febby.
"Tentu,sayang." jawabku senang, terbayang tubuh indah Febby, permainan Febby yang panas dan binal, dan juga nikmatnya mengulum buah dada Febby yang besar.

Sejak saat itu aku menjadi pelampiasan nafsu birahi Febby. Aku harus membagi waktu sehingga aku juga tetap bisa berkencan dan menikmati tubuh Vivi dan Sophie. Biasanya sebelum terbang Febby selalu minta dipuaskan dulu, untuk bekal terbang katanya. Atau sebelum suaminya datang dan mengajak dia bercumbu, Febby selalu mengajakku berhubungan sex. Dia bilang supaya gak pusing kalau sudah main dengan suaminya. (Mengenai cewek pacar si cowok bule akan aku ceritakan di episode yang lain)

 

Pengirim: joy (joycpl2000@yahoo.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 0%, Cukup = 50%, Jelek = 50%

 

     
